StoryTime.id, Pekanbaru – Pagi itu,õ matahari baru naik setinggi bahu ketika Hadiyanto, Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya, berdiri di tengah hamparan sawit muda yang menghijau di Desa Kumain, Rokan Hulu. Ia memandang barisan tanaman itu dengan senyum yang sulit disembunyikan.
“Apa yang kami lakukan setahun ini terbayar sudah,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Hari itu bukan sekadar kunjungan biasa. Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Irwan Perangin Angin, datang didampingi jajaran direksi dan pimpinan wilayah. Mereka membawa kabar yang mengubah wajah desa: Koperasi Produsen Makarti Jaya resmi meraih sertifikasi RSPO pengakuan tertinggi dunia untuk praktik sawit berkelanjutan.
Capaian itu bukan hal sepele. Selama bertahun-tahun, sawit Indonesia kerap diserang stigma negatif: merusak hutan, mengabaikan lingkungan, petani dianggap tak tertata. Namun dari sebuah desa kecil di Riau, sekelompok petani membuktikan sebaliknya: sawit bisa ditanam dengan cara yang bertanggung jawab, disiplin, dan menguntungkan tanpa merusak alam.
Perjalanan yang Tak Pendek
Cerita dimulai Mei 2024. Koperasi sibuk memetakan lahan, mendata anggota, menata sistem administrasi yang dulu sederhana, bahkan seadanya. Pelatihan datang satu per satu—cara memupuk yang benar, konservasi tanah, perlindungan satwa, penggunaan alat pelindung diri yang sebelumnya sering dianggap “ribet”.
“Banyak petani awalnya tidak terbiasa. Ada yang tidak mau pakai sepatu boot karena panas, ada yang malas mencatat panen,” kenang Hadiyanto sambil tertawa.
Tapi perlahan, kebiasaan berubah. Disiplin tumbuh. Kesadaran muncul.Audit internal dilakukan awal 2025. Lalu datang audit eksternal, jauh lebih ketat. Tim auditor mendatangi kebun, meneliti dokumen, berdiskusi dengan petani. Hasilnya mengejutkan banyak pihak: zero major non-conformity. Tak ada pelanggaran terhadap prinsip RSPO.
Itu bukan sekadar nilai bagus—itu bukti bahwa petani kecil bisa membuat standar internasional tunduk pada kerja keras mereka.
Lebih Dari Sertifikat: Ini Perubahan Hidup
Sertifikasi itu bukan hanya kertas dan stempel. Dampaknya terasa di kantong dan di cara pandang. Petani kini mengerti kapan pupuk harus diberikan, bagaimana buah harus dipanen, bagaimana limbah dikelola. Hasil kebun membaik, pendapatan meningkat.
“Dulu kami hanya tanam, rawat, panen. Sekarang kami paham kenapa sesuatu harus dilakukan. Pengetahuan itu yang membuat kami maju,” kata Suriadi, salah satu anggota koperasi.
Di ruang kecil sekretariat koperasi, papan tulis penuh jadwal pelatihan. Anak-anak muda desa ikut terlibat dalam administrasi. Ada ruang baru bagi generasi berikutnya untuk melihat sawit bukan hanya pekerjaan, tapi profesi yang punya standar dan martabat.
PTPN IV PalmCo: Ketika Perusahaan Besar Menyatu Dengan Desa
Irwan Perangin Angin tak sekadar datang memberi selamat. Di tiap pertemuan, ia mendorong agar keberhasilan Kumain menetes ke desa-desa lain.
“Petani Indonesia bisa bersaing di pasar dunia. Yang kita perlukan hanya pendampingan, komitmen, dan keberanian berubah,” ujarnya.
PTPN IV PalmCo telah menyiapkan rencana memperluas pendampingan ke seluruh mitra. Targetnya tegas: semua petani mampu menjalankan praktik sawit yang berkelanjutan. Tidak ikut tren, tetapi memimpin perubahan.
Menuju Babak Baru: Replanting dan Koperasi Modern
Koperasi Makarti Jaya kini bersiap memasuki tahap berikutnya: replanting 300 hektare kebun yang sudah menua. Mereka juga ingin memperluas unit usaha dan menambah anggota.
Yang mereka bangun bukan hanya kebun baru, tapi masa depan baru. Karena di Desa Kumain, sawit bukan lagi cerita tentang menjual buah ke tengkulak dan menunggu harga. Sawit kini tentang ilmu, jejaring, keberlanjutan, dan keyakinan bahwa petani kecil bisa berdiri sejajar di pasar global.
Sawit Indonesia Bisa Berkelanjutan—Kumain Sudah Membuktikannya
Dari desa kecil di Rokan Hulu, sebuah pesan dikirim ke dunia: Indonesia bisa mengelola sawit secara bertanggung jawab, memberi manfaat ekonomi, sekaligus menjaga lingkungan.
Dan seperti kata Irwan sebelum meninggalkan kebun hari itu:
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Hari ini Kumain. Besok, Indonesia.”
Redaksi: StoryTime.id






