StoryTime.id – Setiap pagi, masih ada anak-anak Indonesia yang berangkat ke sekolah tanpa sempat menikmati sarapan. Bukan karena orang tua mereka abai, melainkan karena keterbatasan yang memaksa keluarga menyimpan harapan pada satu hal paling sederhana: makan yang cukup.
Cerita itu berulang di banyak daerah, dari pesisir hingga pedalaman. Di balik realitas tersebut, pemerintah menyiapkan langkah besar melalui pembangunan ribuan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menargetkan pembangunan sekitar 33.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga tahun 2026. Target itu mencakup 27.000 SPPG di wilayah aglomerasi serta 8.558 dapur di daerah terpencil, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Target kami di 2026 adalah memastikan layanan pemenuhan gizi menjangkau seluruh anak Indonesia, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil,” ujar Dadan saat ditemui di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Bagi anak-anak di wilayah 3T, kehadiran dapur MBG bukan sekadar program pemerintah. Ia menjadi penopang proses belajar. Dengan gizi yang cukup, anak-anak diharapkan dapat tumbuh lebih sehat, fokus di ruang kelas, dan memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang.
Namun pelaksanaan di lapangan menghadapi tantangan tersendiri. Pemerintah masih melakukan pemutakhiran data lembaga pendidikan, termasuk pesantren yang belum seluruhnya tercatat secara administratif.
“Setelah dilakukan pendataan lebih detail, kami menemukan masih banyak pesantren yang belum terdata. Ini menjadi perhatian serius agar tidak ada yang tertinggal,” kata Dadan.
Program MBG juga melibatkan sumber daya manusia di sektor pendidikan. Pada tahun ini, pemerintah menyiapkan penambahan guru dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari ekosistem pemenuhan gizi nasional. Peran mereka dinilai penting, tidak hanya dalam proses belajar-mengajar, tetapi juga dalam memastikan keberlanjutan layanan gizi di sekolah.
Pembangunan ribuan dapur gizi ini diharapkan menjadi fondasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di balik panci yang mengepul dan makanan yang disajikan setiap hari, tersimpan upaya negara untuk memastikan masa depan generasi muda tidak terhambat oleh persoalan dasar, kekurangan gizi.
Dari dapur-dapur sederhana di pelosok negeri, pemerintah berharap lahir generasi Indonesia yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Redaksi StoryTime.Id






