STORYTIME.ID – Forum Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Kalianda, Kamis (12/2/2026), mendadak terasa berbeda. Di antara paparan program dan data teknokratis, tiga suara muda bangkit menyampaikan harapan jujur, lugas, dan penuh keberanian.
Mereka adalah Ridwan Saputra, Putri Yanitasari, dan Agil Jerfi Nugroho, siswa SMPN Satu Atap 2 Kalianda. Dengan langkah mantap, ketiganya menyuarakan kondisi sekolah mereka yang masih jauh dari kata ideal, yakni belum memiliki perpustakaan dan akses jalan menuju sekolah yang rusak.
Keistimewaan tak berhenti di situ. Aspirasi itu disampaikan dalam tiga bahasa sekaligus Bahasa Indonesia, Bahasa Lampung, dan Bahasa Inggris. Forum yang biasanya didominasi orang dewasa mendadak hening, memberi ruang penuh pada suara generasi penerus.
Keberanian itu langsung mengetuk hati Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama. Di hadapan peserta Musrenbang, ia tak menyembunyikan rasa bangganya.
“Jalannya rusak, nanti dicek dulu sama PU, jalan menuju SMPN Satap 2 Kalianda. Keren, saya senang melihat masyarakat Lampung Selatan sekarang ini,” ujar Egi. Ia lalu meminta data ketiga pelajar tersebut untuk diberikan tabungan pendidikan sebagai bentuk apresiasi.
Bagi Bupati Egi, kehadiran dan keberanian pelajar dalam forum resmi pemerintah adalah tanda positif tumbuhnya kesadaran partisipasi sejak dini. Menurutnya, pembangunan daerah tak hanya soal angka dan proyek, tetapi juga soal mendengar suara mereka yang akan menikmati hasil pembangunan di masa depan.
Pemerintah daerah, kata Egi, akan berkomitmen menindaklanjuti aspirasi tersebut, baik perbaikan jalan menuju sekolah maupun pemenuhan fasilitas pendidikan yang masih terbatas.
Tabungan pendidikan yang diberikan bukan sekadar hadiah, melainkan simbol harapan bahwa keberanian, kepedulian, dan kecintaan pada lingkungan sendiri layak mendapat tempat dan perhatian.
Dari sebuah Musrenbang di Kalianda, tiga pelajar telah menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari suara kecil yang berani disampaikan. Sebuah pesan sederhana namun kuat: masa depan Lampung Selatan sedang belajar untuk bersuara.
Redaksi StoryTime.id






