StoryTime.id – Ramadhan selama ini lebih sering dimaknai sebagai bulan ibadah. Padahal, di balik praktik keagamaan yang dijalankan, tersimpan proses pembelajaran yang intens terutama dalam membentuk mental dan spiritual individu.
Selama 29 hingga 30 hari, masyarakat menjalani latihan kolektif: menahan diri, membangun disiplin, memperkuat empati, hingga membiasakan berbagi. Dalam perspektif pembangunan manusia, proses ini sejatinya merupakan bentuk pendidikan karakter yang berlangsung secara masif dan serentak.
Di sisi lain, negara masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal pembentukan karakter bangsa. Agenda yang sebelumnya dikenal dengan istilah “revolusi mental” belum sepenuhnya menunjukkan ukuran capaian yang jelas di tengah masyarakat.
Pada era Joko Widodo, narasi revolusi mental sempat menjadi arah kebijakan nasional. Namun implementasinya dinilai belum optimal, dan hasilnya sulit diukur secara konkret.
Memasuki era Prabowo Subianto, istilah tersebut tidak lagi menjadi narasi utama. Meski demikian, semangat pembangunan karakter tetap hadir melalui pendekatan yang lebih operasional, seperti program sekolah rakyat dan sekolah unggulan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan karakter tidak hanya bergantung pada narasi besar, tetapi juga pada implementasi yang konkret. Namun, upaya tersebut tidak harus selalu bersumber dari program formal negara.
Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang sarat nilai—baik dari tradisi suku, ajaran agama, maupun praktik sosial sehari-hari. Nilai-nilai seperti disiplin, kepedulian, dan solidaritas telah lama hidup di masyarakat.
Dalam konteks ini, Ramadhan menjadi salah satu momentum paling nyata. Bagi umat Islam, bulan ini merupakan periode intensif pembentukan karakter yang berlangsung secara berkelanjutan setiap tahun.
Selama ini, peran negara dalam Ramadhan cenderung terbatas pada aspek administratif, seperti penetapan awal dan akhir bulan serta menjaga stabilitas harga pangan menjelang Idulfitri. Padahal, potensi Ramadhan sebagai ruang pembangunan manusia jauh lebih luas.
Negara dapat mengambil peran lebih aktif dengan menghadirkan kebijakan yang mendorong pemanfaatan Ramadhan sebagai momentum pembelajaran kolektif. Tidak hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui program yang terstruktur.
Kebijakan anggaran, misalnya, dapat diarahkan untuk mendukung aktivitas yang memperkuat nilai-nilai karakter selama Ramadhan, bukan sekadar kegiatan simbolik seperti buka bersama.
Dengan pendekatan tersebut, Ramadhan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah momentum ini tersedia, melainkan sejauh mana negara mampu memanfaatkannya secara optimal untuk membangun karakter bangsa.
Ditulis oleh Ary Santoso
Editor: StoryTime.id






