StoryTime.id – Pogram Makan Bergizi Gratis yang mulai diterapkan pemerintah tidak boleh hanya dipandang sebagai kebijakan sosial semata.
Di balik distribusi makanan ke jutaan siswa sekolah, tersimpan peluang ekonomi yang seharusnya dikelola dengan baik. Bahkan, kebijakan ini berpotensi menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi rakyat jika diimplementasikan secara tepat di tingkat daerah.
Di banyak wilayah, dapur-dapur kecil mulai kembali hidup. Kebutuhan harian akan bahan pangan untuk ribuan pelajar menjadikan pasar lokal kembali bergairah.
Petai sayur, peternak ayam, pedagang telur, hingga UMKM katering mendapatkan dampak langsung dari meningkatnya permintaan.
Rantai harga yang sebelumnya tersendat kini kembali bergerak. Ini merupakan sinyal positif bahwa program sosial dapat memberikan efek ikutan yang memperkuat ekonomi masyarakat kecil.
Tak kalah penting, program ini memberi ruang finansial baru bagi keluarga. Orang tua, terutama mereka yang berpenghasilan rendah, merasakan berkurangnya beban pengeluaran harian.
Dana yang biasanya tergerus untuk uang saku dan bekal anak kini dapat dialihkan untuk kebutuhan lain yang tak kalah penting.
Dalam skala nasional, perubahan kecil ini menciptakan peningkatan daya beli masyarakat yang dapat memperkuat ekonomi daerah.
Namun, harapan besar ini harus dibarengi dengan sistem pengawasan yang kuat. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa distribusi anggaran berjalan transparan, pembelian bahan pangan mengutamakan produk lokal, dan kualitas makanan tetap menjadi prioritas.
Tanpa tata kelola yang baik, program ini berisiko menjadi ladang praktik-praktik tidak sehat yang justru menghambat kemanfaatannya.
Program makan bergizi gratis seharusnya menjadi salah satu wajah baru keberpihakan negara kepada rakyat kecil.
Jika dirawat dengan baik, program ini bisa menjadi kebijakan multifungsi: menyehatkan anak-anak, menggerakkan ekonomi lokal, menekan pengeluaran rumah tangga, dan membuka lapangan kerja baru.
Ada pesan besar yang ingin disampaikan melalui kebijakan ini: bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa. Kadang, ia justru bergerak dari sendok nasi di piring seorang anak sekolah.
Redaksi: StoryTime.id






