StoryTime.Id – Perpres 86/2021 tentang DBON turun bagai kitab suci olahraga nasional. Tetapi kitab, seindah apa pun ayatnya, tak akan pernah mengantar atlet ke podium jika hanya dibaca tanpa ditafsirkan di lapangan. Di sinilah Lampung diuji. Apakah berani menulis babak baru lewat DBOD, atau sekadar menjadi penyalin pasif dari pusat bangga dengan baliho besar, tapi miskin karya nyata?
Lampung punya DNA olahraga yang pernah terbukti: lari kencang di lintasan, pesenam yang indah yang berprestasi, tendangan keras di gelanggang bela diri. Namun sejarah itu tak lahir dari sistem, melainkan dari kebetulan dan bakat yang tak sengaja ditemukan. Sampai kapan Lampung bertahan hidup dari “keajaiban sesaat”? Atlet lahir bukan dari doa semata, tapi dari ekosistem pembinaan yang disiplin, berjenjang, dan terukur. Tanpa itu, Lampung hanya akan menunggu bintang jatuh yang kian jarang melintas.
Lebih getir lagi, Lampung sering lupa bahwa olahraga bukan hanya soal medali. Bukankah garis pantai panjang, Krakatau yang perkasa, dan Way Kambas yang mendunia bisa menjadi panggung sport tourism kelas internasional? Bayangkan maraton pantai, triathlon dunia, atau kejuaraan bela diri bercampur tradisi lokal. Dari sana lahir bukan hanya atlet, tetapi juga ekonomi, investor, dan kebanggaan daerah. Tapi semua itu hanya mungkin jika DBOD berani meninggalkan wacana kosong dan bergerak ke ranah nyata.
Tantangan sesungguhnya justru bukan pada ide, melainkan pada birokrasi yang terlalu sibuk bersolek. Selama DBOD diwarnai rapat panjang, seminar mewah, dan spanduk seremonial, maka ia hanya akan menjadi monumen kegagalan baru. Apa gunanya program besar tanpa ukuran konkret? Berapa persen partisipasi masyarakat yang meningkat, berapa event olahraga yang melahirkan wisata, berapa medali yang ditargetkan, berapa persen industri olahraga menyumbang pada ekonomi daerah? Jika indikator itu tak pernah lahir, DBOD hanya akan terkubur di laci para pejabat.
Satu hal yang mesti diingat: olahraga modern tak bisa berjalan sendirian. Dibutuhkan simfoni triple helix pemerintah yang menyediakan regulasi dan dana, perguruan tinggi yang menghadirkan riset sport science, dunia usaha yang berani menanam modal. Tanpa itu, Lampung akan tetap jadi figuran, bukan aktor utama, dalam panggung Indonesia Emas 2045.
DBOD Lampung adalah pertaruhan sejarah. Apakah ia akan menjadi lompatan emas yang mengantar Lampung sejajar dengan provinsi unggul lainnya, atau sekadar formalitas murahan yang mati di tengah jalan? Jawabannya ada pada keberanian Lampung: memilih bergerak atau kembali tidur dalam seremonial.
Ditulis oleh Dr. Aditya Gumantan,M.Pd






