KPK Jalin Kerja Sama Antikorupsi dengan Kiribati, Perkuat Jejaring Asia Pasifik Ketua KPK: Korupsi Bukan Sekadar Masalah Hukum, tapi Masalah Moral dan Integritas KPK Sita 44 Bidang Tanah di Karanganyar Terkait Kasus Pemerasan di Kemenaker Ratusan Pelajar di Bandung Barat Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis Sembilan Laga Seru Warnai Pekan Ini di Indonesia Super League Pentingnya Komunikasi Strategis dan Transformasi Digital dalam Penguatan Reputasi DPR

Opini

Ramadhan sebagai Strategi Pembangunan Manusia: Sudahkah Negara Memanfaatkannya?

Avatarbadge-check


					Ramadhan sebagai Strategi Pembangunan Manusia: Sudahkah Negara Memanfaatkannya? Perbesar

StoryTime.id Ramadhan selama ini lebih sering dimaknai sebagai bulan ibadah. Padahal, di balik praktik keagamaan yang dijalankan, tersimpan proses pembelajaran yang intens terutama dalam membentuk mental dan spiritual individu.

Selama 29 hingga 30 hari, masyarakat menjalani latihan kolektif: menahan diri, membangun disiplin, memperkuat empati, hingga membiasakan berbagi. Dalam perspektif pembangunan manusia, proses ini sejatinya merupakan bentuk pendidikan karakter yang berlangsung secara masif dan serentak.

Di sisi lain, negara masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal pembentukan karakter bangsa. Agenda yang sebelumnya dikenal dengan istilah “revolusi mental” belum sepenuhnya menunjukkan ukuran capaian yang jelas di tengah masyarakat.

Pada era Joko Widodo, narasi revolusi mental sempat menjadi arah kebijakan nasional. Namun implementasinya dinilai belum optimal, dan hasilnya sulit diukur secara konkret.

Memasuki era Prabowo Subianto, istilah tersebut tidak lagi menjadi narasi utama. Meski demikian, semangat pembangunan karakter tetap hadir melalui pendekatan yang lebih operasional, seperti program sekolah rakyat dan sekolah unggulan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan karakter tidak hanya bergantung pada narasi besar, tetapi juga pada implementasi yang konkret. Namun, upaya tersebut tidak harus selalu bersumber dari program formal negara.

Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang sarat nilai—baik dari tradisi suku, ajaran agama, maupun praktik sosial sehari-hari. Nilai-nilai seperti disiplin, kepedulian, dan solidaritas telah lama hidup di masyarakat.

Dalam konteks ini, Ramadhan menjadi salah satu momentum paling nyata. Bagi umat Islam, bulan ini merupakan periode intensif pembentukan karakter yang berlangsung secara berkelanjutan setiap tahun.

Selama ini, peran negara dalam Ramadhan cenderung terbatas pada aspek administratif, seperti penetapan awal dan akhir bulan serta menjaga stabilitas harga pangan menjelang Idulfitri. Padahal, potensi Ramadhan sebagai ruang pembangunan manusia jauh lebih luas.

Negara dapat mengambil peran lebih aktif dengan menghadirkan kebijakan yang mendorong pemanfaatan Ramadhan sebagai momentum pembelajaran kolektif. Tidak hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui program yang terstruktur.

Kebijakan anggaran, misalnya, dapat diarahkan untuk mendukung aktivitas yang memperkuat nilai-nilai karakter selama Ramadhan, bukan sekadar kegiatan simbolik seperti buka bersama.

Dengan pendekatan tersebut, Ramadhan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah momentum ini tersedia, melainkan sejauh mana negara mampu memanfaatkannya secara optimal untuk membangun karakter bangsa.

Ditulis oleh  Ary Santoso

Editor: StoryTime.id 

Facebook Comments Box

Berita Lainnya

Profil Revi Ahmed, Musisi Multitalenta yang Konsisten Berkarya di Industri Musik

27 Maret 2026 - 14:22 WIB

Cantik dengan Percaya Diri, Perjalanan Fitri Amalia Rosyanti Membangun VARBEAUTYSKIN 

6 Maret 2026 - 08:11 WIB

Dari Dapur Gizi di Pelosok Negeri, Negara Menjaga Masa Depan Anak-anak Indonesia

20 Januari 2026 - 08:22 WIB

Berawal dari Wartawan, Ahmad Muslim Konsisten Jadi Wakil Rakyat Tiga Periode

22 Desember 2025 - 12:38 WIB

Medali SEA Games dan Pekerjaan Rumah Atlet Lampung

17 Desember 2025 - 05:04 WIB

Story Trending Berita