StoryTime.id – Di antara deretan toga yang memenuhi ruang wisuda, satu nama dipanggil dengan nada istimewa. Bukan sekadar lulusan, tetapi simbol dari ketekunan yang tak lelah berjalan. Dialah dr. Adilla Dwi Nur Yadika, S.Ked., M.K.M.

dr. Adilla Dwi Nur Yadika, S.Ked., M.K.M bersama Suami ( dok Keluarga).
Pada Sabtu (28/3/2026), ia dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik 1 Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran, sekaligus Terbaik 2 tingkat Universitas Lampung (Unila). Sebuah capaian yang tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari proses panjang yang senyap, disiplin, dan penuh pengorbanan.

Poto: dr. Adilla Dwi Nur Yadika, S.Ked., M.K.M bersama orang tua Suami dan Kakak (dok Keluarga).
Di balik senyum tenangnya, tersimpan perjalanan yang tak ringan. Adilla menyelesaikan studi magisternya hanya dalam waktu 1 tahun 4 bulan, dengan IPK sempurna: 4,00. Sebuah angka yang mungkin terlihat dingin di atas kertas, namun sejatinya menyimpan cerita tentang malam-malam panjang, lelah yang ditahan, dan tekad yang terus dijaga.
Perempuan kelahiran 28 Januari 1999 itu bukan nama baru dalam deretan prestasi. Sejak bangku S1 hingga profesi dokter, ia konsisten meraih predikat cum laude. Bagi sebagian orang, itu mungkin keberuntungan. Namun bagi Adilla, itu adalah hasil dari memilih untuk tidak berhenti, bahkan ketika lelah.
Dekan Fakultas Kedokteran Unila, Dr. dr. Evi Kurniawaty, S.Ked., M.Sc., pun memberikan apresiasi atas capaian tersebut.
“Lulusan terbaik Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, dan juga terbaik kedua tingkat universitas, yaitu dr. Adilla Dwi Nur Yadika. Selamat, semoga semakin sukses ke depan,” ujarnya.
Namun, menjadi yang terbaik bukan hanya tentang angka. Ada banyak hal yang berjalan beriringan: masa studi yang efisien, capaian akademik, kemampuan bahasa, hingga karya ilmiah yang diakui. Dan Adilla menjalaninya satu per satu—tanpa banyak sorot, tanpa banyak suara.
Di luar ruang kelas, ia tetap melangkah. Mengabdi sebagai dokter umum, membimbing mahasiswa, hingga terlibat dalam riset dan organisasi. Baginya, belajar bukan hanya tentang lulus, tetapi tentang bertumbuh.
Sebagai putri bungsu dari Supriyadi Alfian, wartawan senior Lampung, dan Artati Kartika Dewi, Adilla tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan nilai kerja keras dan ketekunan. Namun ia menegaskan, pencapaian ini bukan tentang latar belakang—melainkan tentang bagaimana seseorang bertahan dalam prosesnya.
“Alhamdulillah, ini bukan hanya tentang hasil, tapi perjalanan panjang yang penuh perjuangan,” ujarnya lirih.
Menariknya, di tengah padatnya perjalanan akademik itu, Adilla juga baru saja memasuki babak baru dalam hidupnya: menikah dengan M. Fadil, S.T. Namun alih-alih menjadi jeda, fase itu justru menjadi penguat langkahnya.
Ia menyadari, keberhasilan tak pernah berdiri sendiri. Ada doa orang tua, dukungan pasangan, bimbingan dosen, dan kebersamaan teman-teman yang menjadi bagian dari perjalanan itu.
“Pencapaian ini bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi siapa yang mampu bertahan dan terus melangkah,” tuturnya.
Di penghujung momen wisuda, Adilla memilih untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga berbagi harapan.
“Selamat kepada seluruh wisudawan. Semoga ilmu yang kita peroleh berkah dan bermanfaat. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan ke depan,” katanya.
Di balik gelar dan prestasi, kisah Adilla adalah pengingat sederhana: bahwa keberhasilan bukan milik mereka yang paling cepat, melainkan mereka yang tidak berhenti berjalan.
Editor; StoryTime.id.






