StoryTime.id – Di balik ambisi besar menatap panggung nasional, para atlet Lampung justru masih bergulat dengan persoalan mendasar: ketiadaan fasilitas latihan yang layak.
Bekas kejayaan GOR Saburai kini tinggal kenangan, berganti dengan berdirinya Masjid Al-Bakri. Sementara itu, janji pembangunan gedung olahraga pengganti masih menggantung tanpa kepastian.
Setiap hari, para atlet tetap berlatih. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyesuaikan diri dengan ruang yang tersedia—kadang sempit, kadang jauh dari standar ideal.
Di tengah keterbatasan itu, semangat tetap dijaga. Namun, waktu terus berjalan, dan tantangan ke depan kian besar.
Wakil Ketua Umum II KONI Lampung, Riagus Ria, menilai kondisi ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Agenda olahraga sudah menanti di depan mata mulai dari Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 dan 2032, hingga event terdekat seperti Porwanas dan Pornas tahun depan.
“Harapan kami jelas, pembangunan GOR baru harus segera direalisasikan. Saat ini atlet kita kekurangan tempat latihan yang representatif,” ujarnya, Senin (27/4).
Menurutnya, tanda awal pembangunan sebenarnya sudah terlihat melalui pemasangan tiang pancang. Namun setelah itu, progres fisik tak lagi bergerak. Bagi atlet, jeda ini bukan sekadar keterlambatan proyek melainkan hambatan nyata dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
Di sisi lain, KONI Lampung mengaku telah berulang kali mengingatkan pemerintah daerah untuk menepati komitmen. Aset GOR Saburai merupakan milik pemerintah yang proses peralihannya telah melalui pembahasan bersama DPRD dan pemerintah. Karena itu, pembangunan fasilitas pengganti seharusnya menjadi tanggung jawab yang tak bisa ditunda.
“Kami menagih janji agar gedung olahraga pengganti segera dibangun. Ini penting untuk kepentingan pembinaan dan latihan atlet Lampung,” tegas Riagus.
Lebih dari sekadar bangunan, gedung olahraga adalah ruang tumbuh bagi prestasi. Di sanalah teknik diasah, mental ditempa, dan mimpi dibentuk. Tanpa infrastruktur yang memadai, upaya meningkatkan kualitas atlet menjadi tidak optimal.
Kini, harapan itu kembali diarahkan kepada pemerintah daerah. Dengan deretan agenda besar yang sudah di depan mata, langkah konkret menjadi kebutuhan mendesak. Sebab bagi para atlet, waktu tak pernah menunggu—dan prestasi tak lahir dari janji, melainkan dari persiapan yang nyata.
Editor: Barakencana






